Tanggapan Orang Madura Terhadap Perang Sampit ✧ ❲FULL❳
"Orang Madura datang ke Kalteng untuk bekerja, membuka lahan, atau berdagang. Sifat keras dan terbuka mereka sering disalahartikan sebagai arogan. Namun, dalam Perang Sampit, nyawa orang Madura justru melayang lebih dulu dalam jumlah besar. Tanggapan kami: ini adalah tragedi kemanusiaan, bukan kemenangan satu pihak," ujarnya dalam diskusi budaya beberapa waktu lalu. Tanggapan kritis juga diarahkan pada pemerintah pusat. Bagi warga Madura, terutama para pengungsi yang masih tinggal di kamp-kamp darurat di Surabaya, Sidoarjo, dan pulau asal mereka, negara dinilai lamban bertindak. Mereka mengaku merasa "dikhianati" karena janji pemulihan hak dan relokasi tak kunjung terealisasi secara penuh.
"Kami diusir dengan kekerasan. Rumah, toko, dan kebun karet kami tinggalkan. Pemerintah bilang akan memulihkan, tapi sampai sekarang banyak yang belum mendapat kompensasi. Tanggapan kami pahit: kami kehilangan masa depan hanya karena perbedaan budaya," keluh Hasan Ali, seorang mantan perantau asal Bangkalan yang kini tinggal di pengungsian Pasuruan. Bagi orang Madura yang memilih kembali ke Kalimantan setelah konflik mereda (terutama di Palangka Raya dan sekitarnya), tanggapannya lebih realistis namun penuh luka. Mereka mengakui bahwa sebelum 2001, hubungan dagang dan sosial antara Madura dan Dayak sebenarnya cukup baik. Konflik, menurut mereka, dipicu oleh provokasi elite politik lokal pasca-Reformasi dan kasus kriminalitas yang dilebih-lebihkan. tanggapan orang madura terhadap perang sampit
Karena pada akhirnya, baik Dayak maupun Madura sama-sama merasakan getirnya konflik, dan sama-sama merindukan kedamaian yang dulu sempat bersemi di tanah Kalimantan. "Orang Madura datang ke Kalteng untuk bekerja, membuka
SAMPIT, Kalteng – Lebih dari dua dekade telah berlalu, namun gurat trauma dan pertanyaan besar masih tersisa. Perang Sampit (2001) yang menewaskan ratusan jiwa dan memaksa eksodus besar-besaran warga Madura dari Kalimantan Tengah (Kalteng) hingga kini menjadi babak kelam sejarah Indonesia. Di mata publik nasional, konflik ini kerap disederhanakan sebagai "orang Dayak vs orang Madura." Lantas, bagaimana sebenarnya tanggapan masyarakat Madura, baik yang kini kembali ke kampung halaman di Pulau Madura maupun yang masih memilih tinggal di Kalteng, terhadap peristiwa berdarah tersebut? Bukan Agresi, Tapi Reaksi terhadap Stigma Salah satu tanggapan paling umum yang muncul dari komunitas Madura adalah penolakan terhadap narasi bahwa mereka adalah pihak yang "agresor" atau "pemicu" utama konflik. Sejarawan dan budayawan Madura, K.H. Moh. Syafi’i, menyatakan bahwa akar masalah bukanlah kebencian etnis, melainkan akumulasi krisis sosial ekonomi dan ketimpangan struktural. bagaimana sebenarnya tanggapan masyarakat Madura
One Comment
Dave
I have 5 of these, they are terrible. 2 DOA with bad fans, tons of issues and multiple functionality problems. Don’t support current web browsers at all. Stay far away from their DSview product its full of bugs as well.